E-business & Human Resource Management (Case : PT. Garuda Indonesia, Tbk )

Industri penerbangan di kawasan Asia Pasifik telah berkembang dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir. Menurut IATA, kawasan Asia Pasifik telah menjadi pasar industri penerbangan terbesar di tahun 2009, dengan sekitar 647 juta penumpang, atau sebesar 27% dari seluruh pemakai jasa transportasi penerbangan dunia yang berkunjung ke, dari, atau di dalam kawasan Asia Pasifik. Sementara Tingkat pertumbuhan di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan terus meningkat dalam 20 tahun mendatang dengan pertumbuhan rata-rata majemuk (CAGR) per tahun sebesar 7,1% dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2029 (Prospektus Garuda Indonesia 2011). PDB Indonesia telah mengalami pertumbuhan, hal ini disebabkan karena ekonomi yang menguat telah memberikan kontribusi terhadap pengembangan Indonesia menjadi negara menengah dan sejalan dengan kodisi industri penerbangan di kawasan asia pasifik tersebut mengindikasikan potensi peningkatan permintaan untuk pelayanan lalu lintas udara di Indonesia.

Menurut Direktorat Transportasi Udara Indonesia, rata-rata pertumbuhan majemuk penumpang yang menggunakan jalur udara di Indonesia dari tahun 2000-2008, untuk domestik sebesar 22,0% dan internasional sebesar 5,6%.

Indonesia diuntungkan dengan adanya kenaikan kedatangan pengunjung dan wisatawan internasional, terutama mereka yang berasal dari negara-negara Asia Pasifik dan Eropa yang memasuki negara Indonesia. Sumbangan lapangan usaha angkutan udara bagi PDB Indonesia tahun 2009 sebesar 0.4% dengan pertumbuhan dari tahun 2008 sebesar 23.4%. Inilah sebabnya, walaupun Indonesia memiliki pertumbuhan PDB tertinggi di regional Asia Pasifik, industri perhubungan udara Indonesia relatif belum ditembus, yang ditandai dengan masih rendahnya korelasi RPK per kapita dengan PDB per kapita jika dibandingkan dengan negara-negara lain di regional Asia Pasifik untuk tahun 2009.

Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) pada tanggal 20 Mei 2011 dan merupakan langkah awal untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dan termasuk 10 (sepuluh) negara besar di dunia pada tahun 2025 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan. Salah satu strategi utama yang diusung adalah penguatan konektivitas nasional terutama melalui laut dan udara yang menjadi sistem transportasi nasional dan sistem logistik nasional. Hal inilah yang menjadi tantangan pengembangan industri penerbangan nasional untuk memberikan sumbangan kepada pembangunan Indonesia. Pembangunan tersebut tentunya bukan hanya dalam bentuk pembangunan fisik infrastruktur melainkan juga ditekankan pada pembangunan infrastruktur informasi pada industri ini.

Indonesia, dengan populasi penduduk 237 juta jiwa merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar ke empat di dunia setelah China, India dan Amerika Serikat, ditambah lokasi geografis berupa kepulauan, menjadikan moda transportasi udara merupakan salah satu alternatif bagi masyarakan untuk melakukan perjalanan ke tempat tujuannya. Peningkatan PBD per kapita masyarakat menjadi US$3.000/kapita per tahun dan reformasi undang-undang penerbangan untuk mengatur tarif penerbangan, telah memberikan kontribusi berupa peningkatan permintaan pelayanan lalu lintas udara untuk rute domestik sebesar 22%, dari tahun 2000 sejumlah 7.6 juta penumpang per tahun menjadi 37.4 juta penumpang per tahun.

Pada pasar penerbangan domestik di Indonesia, Garuda Indonesia adalah satu-satunya maskapai penerbangan dengan layanan FSC atau full service carrier yang memiliki lisensi untuk beroperasi di Indonesia, terdapat beberapa maskapai penerbangan dengan layanan LCC atau low cost carrier domestik lainnya yang beroperasi di pasar penerbangan domestik di Indonesia.

Tingkat persaingan yang ada di dalam industri penerbangan yang cukup ketat tersebut membuat setiap perusahaan yang bermain di dalamnya berlomba untuk menciptakan value yang terbaik bagi pelanggannya. Pertumbuhan pasar yang potensial ini ternyata ditanggapi secara serius oleh perusahaan-perusahaan penerbangan yang ada Indonesia dengan memberikan added value kepada para konsumen jasa penerbangan.

Salah satu tanggapan akan potensi yang sekaligus sebagai added value tersebut adalah dengan mengembangan e-business dalam bisnis mereka. Dalam industri penerbangan, e-business memiliki peranan yang sangat penting. Bila kita lakukan pendekatan dengan model value chain yang diungkapkan oleh Michael Porter, maka peran e-business ini mampu membantu perusahaan pada aktivitas utama dan penunjang perusahaan. Pada aktivitas utama terkait dengan operasi perusahaan penerbangan, inbound dan outbond logistics, pemasaran, penjualan tiket perusahaan, dan layanan atau service kepada konsumen. Pada sisi kegiatan penunjang, e-business menunjang infrastruktur baik itu fisik maupun informasi, manajemen sumberdaya manusia (human resources management), pengembangan teknologi (technology development) dan kegiatan procurement. Pemanfaatan media internet pada era globalisasi semakin meningkat di dalam industri penerbangan. Pada industri penerbangan ini pemanfaatan teknologi berbasis internet merupakan cara tepat serta inovatif bagi para perusahaan khususnya pada Garuda Indonesia untuk melakukan kegiatan operasional perusahaan termasuk di dalamnya kegiatan pemasaran perusahaan melalui jaringan internet.

Untuk pembahasan lebih lanjut mengenai  PT Garuda Indonesia, Tbk dapat dilihat pada : garuda-indonesia

By kefvinmustikalukmanarief